Sabtu, 27 Januari 2018

GOJEK

Awal Mula Berdirinya Gojek



Nadiem Makarim adalah seorang yang cukup setia menggunakan jasa ojek. Nadiem melihat permasalahan utama tukang ojek adalah waktu tidak produktif yang besaar, seperti mangkal dan menunggu penumpang. Saat di pangkalan ojek, pengemudi ojek harus bergiliran dengan pengemudi ojek lainnya. Disisi lain para pengguna ojek, juga merasa malas untuk berjalan mencari pangkalan ojek. Di kota-kota besar, orang lebih suka menggunakan taxi karena lebih mudah dicari.

Berdasarkan riset tersebut, Nadiem mendapatkan ide awal untuk melakukan inovasi bagaimana cara menghubungkan pengendara ojek dengan calon pembelinya. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan ponsel. GoJek dirintis pada tahun 2011 dengan menggunakan sistem yang masih sangat sederhana, yaitu calon penumpang menghubungi melalui telepon, atau kirim sms.

Profil Pendiri

https://id.techinasia.com

Nadiem Makarim pendiri GoJek, lahir pada 4 Juli 1984. Beliau sempat mengenyam pendidikan SMA di Singapura, pendidikan sarjana di International Relations di Brown University Amerika Serikat. Pendidikan Master di Harvard Business School.
Sebelum Nadiem Makarim mendirikan GoJek, Beliau juga pernah bekerja di sebuah perusahaan konsultan Mckinsey & Company, Managing Editor di Zalora Indonesia, Chief Innovation officer di kartuku. Berdasarkan pengalamannya tersebut Nadiem Makarim mendirikan GoJek.


Perkembangan GOJEK

Go-Jek pada awalnya berangkat dari layanan jasa transportasi berbasis sepeda motor. Namun, berdasarkan informasi yang diketahui oleh redaksi Tirto, perusahaan aplikasi ini berusaha menuju one-stop service application, yakni pelanggan dapat melakukan pemesanan pelbagai jasa hanya dari satu aplikasi.

Go-Jek telah menyediakan 11 variasi layanan jasa dalam aplikasinya, dan sangat mungkin akan bertambah di masa depan. Hal inilah yang membedakan Go-Jek dari aplikasi layanan transportasi seperti Grab maupun Uber. Jika arah pengembangan bisnisnya baik, Go-Jek berpotensi tumbuh lebih besar dari para rivalnya.


Sebagai catatan, Uber saat ini perusahaan rintisan dengan valuasi tertinggi di dunia, senilai 62 miliar dolar AS.


Dengan armada 200 ribu sopir, Go-Jek jelas memiliki sumber daya berlimpah untuk mengembangkan layanannya.


Merujuk sebuah data yang dilansir oleh Tech in Asia, persentase pertumbuhan pemesanan layanan Go-Jek masih sangat tinggi meski mengalami penurunan pada tahun 2016. Untuk diketahui, pada Januari 2016, Go-Jek mencatatkan rata-rata 340 ribu pemesanan per hari. 


Go-Jek menyatakan, jumlah pemesanan layanan mereka pada triwulan kedua pada 2016 mengalami peningkatan sebesar 60 persen. Meski tidak dijelaskan soal perbandingan peningkatan antar kuartal, Go-Jek mengklaim catat total pemesanan lebih dari 20 juta, atau sekitar 667.000 pemesanan per hari.


Model Bisnis

Pada dasarnya model bisnis Go-Jek sama dengan bisnis jasa pemesanan transportasi lainnya yang dijalankan oleh Grab atau Uber, yaitu pelanggan dapat memesan transportasi/kendaraan dari satu lokasi untuk menuju ke lokasi lainnya. 

Perbedaan utamanya adalah, Go-Jek mengutamakan kendaraan dengan jenis sepeda motor, bukan mobil (untuk mobil, kita harus menggunakan sub-menu Go-Car). 

Model bisnis Gojek seperti ini bisa cepat berkembang karena adanya situasi sebab-akibat, sebab banyaknya keluhan masyarakat terkait ojek pangkalan yang memainkan tarif sesuka hati, maka menjadi keuntungan untuk Gojek sebagai peluang bisnis yang amat potensial. Keluhan para konsumen di antaranya:
  1. Tidak aman (rawan tindak kriminal)
  2. Harga yang tidak transparan. Harus tawar menawar terlebih dahulu, seringkali konsumen yang tidak tahu medan ditipu oleh tukang ojek yang memberikan harga lebih
  3. Harus datang ke pangkalan ojek, namun seringkali pangkalan ojek pun tidak ada ojeknya 
Maka munculah ide model bisnis Go-jek sebagai pelopor untuk memperbarui sistem transportasi ini, yaitu dengan menjalin kerjasama dengan orang-orang yang berprofesi sebagai tukang ojek ataupun orang-orang yang ingin mendapatkan tambahan uang melalui profesi ini. Mereka menjamin bahwa konsumen akan mendapatkan:

  1. Keamanan, karena setiap driver dan konsumen Go-Jek harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, semua dapat dilacak dengan mudah
  2. Biaya Transparan, karena ojek Go-Jek menggunakan argometer dan slip bukti pembayaran otomatis dikirimkan melalui email.


Strategi Marketing GOJEK

Dalam hal menarik konsumen, Go-Jek melakukan berbagai macam strategi marketing. Salah satunya dalam menentukan tarif. Kegiatan penentuan harga memainkan peranan penting dalam proses bauran pemasaran. 

Keputusan penetapan harga sangat penting dalam menentukan seberapa jauh sebuah layanan jasa dinilai oleh konsumen dan proses pembangunan citra. Penentuan harga juga memberikan presepsi tertentu dalam hal kualitas. Dalam hal ini Go-Jek menetapkan tarif yang cukup murah bagi pengguna jasanya sehingga konsumen yang tadinya menggunakan ojek biasa kemudian beralih ke Go-Jek.  
       
Selain dari strategi penetapan harga, pihak Go-Jek juga memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Salah satunya strategi dalam promosi jasa. Seperti penetapan media periklanan menggunakan media internet, sosial, brosur, radio, direct selling, event, media partner,  dan juga melalui tradisional marketing seperti publikasi dari mulut ke mulut. 

Go-Jek sendiripun sudah sangat familiar dikalangan artis sehingga dalam hal ini pihak Go-jek juga memanfaatkan artis sebagai brand ambassador untuk menarik konsumen.

Dari beberapa feedback yang diterima, Go-Jek memberikan banyak manfaat bagi konsumen terlihat dari berbagai macam fitur pelayanan yang ditawarkan pihak Go-Jek seperti GO-SEND, GO-RIDE, GO-FOOD, GO-MART, GO-BUSWAY, GO-BOX, GO-CLEAN, GO-GLAM, GO-MESSAGE, dapat dikatakan hal ini sangat memanjakan konsumen.


Penghargaan yang di dapat GOJEK


  • Top 10 Most Powerful Brand in Indonesia pada acara Brand Asia 2017
  • MarkPlus, Inc bekerjasama dengan Nikkei BP Consulting tersebut, GO-JEK juga dinobatkan sebagai Top 3 Brand Performer dan Top 3 Most Powerful Transportation/Logistic Brands
  • Bank Indonesia Awards sebagai Perusahaan Fintech Teraktif Pendukung Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) Inklusi dan Edukasi Keuangan serta Pemberdayaan UMKM.


Sumber


  • https://www.finansialku.com/kisah-sukses-nadiem-makarim-pendiri-gojek/
  • https://tirto.id/go-jek-unicorn-pertama-indonesia-yang-siap-mendunia-bxrl
  • https://www.galena.co.id/q/bagaimana-gojek-menghasilkan-keuntungan
  • https://www.kompasiana.com/kapitaselektakomunikasi/strategi-gojek-dalam-memengaruhi-konsumen_566476486323bd3105620e65



Tidak ada komentar:

Posting Komentar